Home KUB (Kerukunan Umat Beragama)

by admin

Oleh: Aqib Zarnuji,M.Ag

 

Bertetangga dengan Non Muslim

Kita sebagai manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya. Maka, kehadiran tetangga dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim sangat dibutuhkan. Tetangga adalah sosok yang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Meskipun mungkin tetangga kita ada yang non muslim, senang beribadah atau suka bermaksiat

Islam adalah agama rahmah yang penuh kasih sayang. Hidup rukun dalam bertetangga adalah moral yang sangat ditekankan dalam Islam. Jika umat Islam memberikan perhatian dan menjalankan sikap ini, niscaya akan tercipta kehidupan masyarakat yang tentram, aman dan nyaman.

Hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi keimanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, yang artinya:“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari 5589, Muslim 70)

Bahkan besar dan pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah ditekankan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:“Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhari 6014, Muslim 2625)

Maka jelas sekali bahwaIslam mensyariatkan kepada umat Muslim agar selalu berbuat baik kepada tetangga yang hidup berdampingan bersamanya, berbuat baik terhadap tetangga adalah akhlak yang sangat mulia dan sangat ditekankan penerapannya, karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

ProfQuraishShihabmenjelaskan; adaulamayangmenetapkanbahwatetanggaadalahpenghuni tinggaldisekelilingrumahsejakrumahpertamahinggarumah ke-40. Ada juga ulama yang tidak memberi batasan tertentu dan mengembalikannya kepada situasi dan kondisi setiap masyarakat.

Dewasa ini sering kali ada tetangga yang tidak dikenal namanya atau bisa jadi ada yang tidak seagama. Kendati demikian, semua tetangga wajib mendapat perlakuan baik.Ikutbergembiradengankegembiraannya,menyampaikan belasungkawakarenakesedihannya,sertamembantunyaketika mengalamikesulitan, juga segala bentuk akhlak yang baik lainnya: seperti memberi salam, menjenguknya ketika sakit, membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut, bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya.

RasulullahSAWbahkanbersabdakepada sahabat,AbuDzaralGhifari,“WahaiAbuDzar,apabilaengkau (keluargamu) memasak daging, perbanyaklah kuahnya dan berilah tetanggamu.” (HRMuslim).

Namun jika kita mendapati ternyata seseorang tetangga yang hidup di samping kita adalah tetangga yang non-Muslim, bagaimana seharusnya sikap kita kepada mereka? Bolehkah kita berbuat baik kepada mereka?

Perintah untuk berbuat baik kepada tetangga terekam dalam QS An-Nisa ayat 36 berikut ini,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya; Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS An-Nisa; 36)

Para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam, yaitu:

Pertama, tetangga yang mempunyai tiga hak. Yaitu jika seseorang bertetangga dengan saudara/kerabat yang muslim. Maka tetangga tersebut mempunyai hak sebagai tetangga, sebagai saudara, dan sebagai muslim, yang wajib kita penuhi dan jaga haknya.

Kedua, tetangga yang memiliki dua hak. Yaitu jika bertetangga dengan seorang muslim, maka ia mempunyai hak sebagai tetangga dan sebagai muslim yang harus dijaga haknya.

Ketiga, tetangga yang memiliki satu hak. Jika kita bertetangga dengan non-Muslim, maka meskipun secara akidah orang tersebut berbeda dengan kita, tatap harus dipenuhi haknya sebagai tetangga.

Sikap Rasulullah SAW yang selalu berbuat baik kepada tetangganya, baik yang Muslim atau non-Muslim. Seperti dalam riwayat Imam Bukhari; ketika Rasulullah SAW mendapati anak tetangganya yang Yahudi sakit, beliau menjenguk anak tersebut untuk memenuhi haknya sebagai tetangga. Dalam riwayat lain, bahkan Rasulullah juga menjenguk pengemis Yahudi buta yang selalu menjelek-jelekkannya, padahal si Yahudi tidak menyadari bahwa selama ini yang menyuapinya makanan adalah Rasulullah sendiri

Dengan demikian berbuat baik kepada tetangga ada tingkatannya. Semakin besar haknya, semakin besar tuntutan agama terhadap kita untuk berbuat baik kepadanya. Di sisi lain, walaupun tetangga kita non-muslim, ia tetap memiliki satu hak yaitu hak tetangga. Jika hak tersebut dilanggar, maka terjatuh pada perbuatan zhalim dan dosa. Sehingga sebagai muslim kita dituntut juga untuk berbuat baik pada tetangga non-muslim sebatas memenuhi haknya sebagai tetangga tanpa menunjukkan loyalitas kepadanya, agamanya dan kekufuran yang ia anut. Semoga dengan akhlak mulia yang kita tunjukkan tersebut menjadi jalan hidayah baginya untuk memeluk Islam.

You may also like

Leave a Comment

Follow by Email