Home Artikel HIKMAH DI BALIK  PANDEMI COVID 19 BAGI UMAT ISLAM

HIKMAH DI BALIK  PANDEMI COVID 19 BAGI UMAT ISLAM

by admin

HIKMAH DI BALIK  PANDEMI COVID 19 BAGI UMAT ISLAM

Oleh: Ely Rosyidah,S.Ag*

PENDAHULUAN

 

Musibah apapun yang terjadi, pasti ujung-ujungnya menimbulkan akibat yang buruk serta menyusahkan dan menyengsarakan manusia,. baik Musibah social, musibah alat transportasi maupun musibah bencana alam. Tidak terkecuali pula musibah Pandemi atau wabah Corona virus (covid 19) yang sampai saat ini masih berlangsung, serta belum diketahui secara pasti kapan berakhirnya.. Di mana musibah yang satu ini tidak hanya bersifat local, regional ataupun nasional, melainkan juga meluas sampai internasional.atau menggelobal. Tidak hanya berdampak dan berefek pada satu macam persoalan, misalnya puluhan ribu orang meninggal dunia karena terpapar covid 19, tetapi dampak dan efeknya juga meluas pada persoalan persoalan lain, seperti hancurnya bisnis dan perekonomian, banyaknya karyawan yang di rumahkan atau di PHK, mandegnya aktifitas dunia Pendidikan dan sebagainya.

Bila memandang  satu musibah yang hanya focus pada akibat dan dampak buruk yang ditimbulkannya saja, tentu akan semakin menimbulkan keresahan dan kegelisahan yang lebih mendalam hingga mengalami depressi dan stress bahkan pula menimbulkan Traumatik berkepanjangan. Padahal seseorang yang mengalami kondisi seperti itu tanpa disadari justru akan melemahkan imun, anti body atau system kekebalan tubuhnya, sehingga akan sangat mudah terpapar covid 19.

 

Karena itu Allah swt telah mengajarkan kepada Hamba-Nya, agar tidak memandang suatu musibah hanya dari satu sisi saja, yaitu dari sisi dampak dan efek buruk yang ditimbulkannya, tetapi juga harus memandang dari sisi yang lain, yaitu dampak positif, hikmah atau mau’izhah (pelajaran) di balik terjadinya peristiwa musibah tersebut. Sebagaimana Firman Allah :

 

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [1]

 

Firmannya pula di ayat lain :

………فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“……………….(maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan pada sesuatu itu kebaikan yang banyak.”[2]

 

Musibah Pandemi covid 19 adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh manusia di dunia. Namun di balik sesuatu yang dibenci oleh manusia tersebut banyak kebaikan, hikmah atau pelajaran di dalamnya.

 

PERMASALAHAN

 

Lantas, apa saja kebaikan, hikmah dan Mau’izhoh (pelajaran) berharga yang bisa kita petik di balik terjadinya peristiwa musibah Pandemi covid 19 tersbut ?

 

PEMBAHASAN

 

Berikut uraian dan  penjelasan beberapa Hikmah dan mau’izhah (pelajaran) yang bisa kita petik di balik terjadinya Pandemi Covid 19.

 

  1. Allah swt Mengingatkan manusia akan Kebesaran dan Kuasa- Nya, sekaligus menyadarkan manusia akan kelemahan dan ketidak berdayaannya

 

Baru menghadapi Corona virus saja manusia sudah dibuat kebingungan, panic dan selalu diliputi kekhawatiran.  Apalagi bila  ditimpa Musibah yang lebih berat lagi dari pada itu, tentu manusia akan semakin tidak berdaya di hadapan Allah swt.

Setinggi apapun pengetahuan manusia, sekuat apapun usaha para tenaga medis, setiap hari masih ada saja kasus baru dan kasus kematian baru. Tanpa mengurangi rasa hormat pada dua profesi kemanusiaan tersebut, kita memang tak bisa memungkiri bahwa kita adalah makhluk yang lemah.  Allah swt Berfirman  :

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا

“Dan manusia diciptakan (bersifat) lemah.”  [3]

 

 

Dan Firman-Nya :

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri,” [4]

 

Dengan kekuasaan Allah swt justru manusia sangat takut menghadapi makhluq yang bentuknya sangat kecil dan halus yang dinamakan Virus Corona ini. Virus tersebut akan menyerang siapa saja tanpa pandang bulu,  status social, Ras, Suku dan Agama, tak peduli Orang beriman ataupun kafir, semuanya bisa saja terkena, kapanpun dan di manapun jika Allah swt menghendaki. Bahkan tidak sedikit para dokter dan tenaga Medis yang menjadi korban meskipun membentengi dan melindungi dirinya dengan Alat Pelindung Diri (APD).  Jangankan hanya dengan Alat Pelindung Diri (APD), bahkan berlindung di dalam benteng yang kuat, rapat dan kokoh sekalipun tetap saja mengalami kematian bila Allah swt Menghendaki. Allah swt Berfirman :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh……..…”[5]

 

 

 

  1. Mengedukasi manusia akan Pentingnya Manjaga Kebersihan, termasuk mencuci tangan

 

Kebersihan adalah pangkal Kesehatan. Artinya menjaga Kebersihan (sterilisasi) adalah satu upaya untuk mencegah datangnya penyakit (Virus, bakteri, dll). Karena Itu Rasulullah SAW mengajarkan kepada ummatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan. Di antaranya rajin mencuci tangan.  Beliau bersabda :

وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِي وَضُوئِهِ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia membasuh kedua telapak tangannya sebelum memasukkannya dalam bejana air wudhunya, sebab salah seorang dari kalian tidak mengetahui dimana tangannya bermalam. [6]

 

  1. Mengedukasi manusia untuk senantiasa menjalin Keharmonisan Rumah tangga dan keluarga.

 

Dengan diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar), Jaga Jarak (Physical Distancing), WFH (Work From Home) atau Bekerja secara Online dari Rumah, dan lain lain selama masa Pandemi Covid 19,  seorang ayah atau Ibu dari anak-anak yang biasanya jarang berkumpul bersama keluarga karena sibuk bekerja mulai pagi sampai sore bahkan malam, bahkan jarang pulang,  mau tidak mau harus stanbay di rumah masing-masing. Dengan demikian Keharmonisan Rumah Tangga dan keluarga bisa Terjalin yang sebelumnya terabaikan.

Seorang ayah terkadang “hilang” dalam kehidupan anaknya. Bukan karena “hilang” dalam arti pergi jauh atau meninggal dunia, tetapi kehadirannya tidak dirasakan oleh anak, walaupun pada jam-jam tertentu sang ayah ada di rumah. Fenomena seperti itu disebut “fatherless.”

Seorang Pakar parenting, Elly Risman, mengatakan bahwa kehadiran ayah itu membuat anak menjadi lebih berarti, menjadi lebih tangguh, mempunyai inisiatif. Dari ayahlah, si anak belajar memiliki sikap berani dan siap menghadapi risiko. Itu bisa terbaca dari hal sederhana seperti cara laki-laki (ayah) bermain dengan anak-anaknya.[7]

 

  1. Mengedukasi para Orang tua untuk Tarbiyatul Aulad (memberikan Pendidikan pada anak) di rumah, terlebih lagi Pendidikan Agama

 

Pendidikan anak (tarbiyatul Aulad) sebenarnya adalah Tanggung Jawab para orang tua di rumah, bukan tanggung jawab para Guru di sekolah, atau di tempat mengaji. Di sekolah atau di tempat mengaji, hanya di bawah asuhan dan pengawasan guru, untuk waktu yang terbatas beberapa jam lamanya, selebihnya adalah kembali dalam asuhan dan pengawasan para orang tua di rumah. Dengan kata lain, rumah bukan hanya sekedar tempat tinggal, tetapi juga menjadi madrasah bagi anak-anak.  Allah swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka………. [8]

 

Maksudnya, ‘Ajarilah keluargamu untuk mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sehingga terhindar dari Ancaman siksa neraka. Demikian Menurut Para ahli tafsir. [9]

 

Dan Firman-Nya :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. [10]

Dan Rasulullah saw Bersabda :

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing.[11]

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Menurut Para Fuqoha’, disamping sholat anak-anak juga dilatih berpuasa, agar hal itu menjadi latihan baginya untuk melaksanakan ibadah, agar saat dewasa nanti taat melaksanakan ibadah serta menjauhi maksiat. [12]

 

Tentu saja hal tersebut akan terwujud jika para orang tua menyisihkan waktu di rumah bersama keluarga.

 

  1. Peringatan dari Allah bahwa Pandemi covid 19 adalah karena akibat dari perbuatan manusia.

Musibah apapun yang terjadi, termasuk Pandemi covid 19,  semuanya adalah karena akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Sebagaimana yang difirmankan oleh  Allah :

 

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.Tetapi Allah lebih banyak memaafkan [13]

 

Dan apabila Allah swt menimpakan musibah apapunn termasuk Pandemi Covid 19, sifatnya menyeluruh / global, yakni tidak hanya menimpa orang orang yang menjadi pelaku kejahatan atau kezhaliman saja, tetapi yang tidak berdosapun juga terkena dampaknya. Tanpa pandang bulu, usia, status social, suku, Ras, maupun Agama, baik yang kafir maupun yang beriman. Firman Allah :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan jagalah dirimu dari Fitnah (Malapetaka) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat dshsyat siksaan-Nya” [14]

 

Yakni dahsyat dan meluas dampak dan akibat buruk yang ditimbulkannya dan memakan korban yang tidak sedikit.

 

  1. Sebagai Ujian / Cobaan keimanan, bagaimana Manusia menyikapinya.

 

Dalam situasi dan kondisi Pandemi Covid 19 yang tidak biasa ini,  mengingatkan semua orang untuk sejauh mungkin menjaga jarak (physical Distancing) dari kerumunan. Tak lain tak bukan, karena perasaan takut dan khawatir “demi menjaga keselamatan”. Sikap tersebut merupakan insting dan respon pertama manusia dalam setiap menghadapi musibah seperti pandemi Corona virus (Covid 19). Dan, itulah ujian urutan pertama yang disebutkan dalam Firman Allah :

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” [15]

 

Menurut Ibn Asyur, seperti dikutip Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, menyebutkan bahwa kata “Syai-in” di ayat tersebut merupakan bagian kecil dari entitas yang lebih besar. Artinya ujian tersebut sangatlah kecil disbanding Karunia dan pertolongan Allah swt yang begitu besar dan luas.[16]

 

Ayat tersebut merupakan respon dan koreksi al-Quran terhadap sikap emosional manusia dalam menghadapi suatu cobaan. Menurut Prof. Quraish, letak ujian yang sebenarnya adalah bagaimana manusia dalam merespon terhadap ujuan tersebut. Di situlah letak keberhasilan dan kegagalannya [17]

 

As-Samarqandi dalam kitab Bahr al-ulum menggambarkan, bahwa Rasa takut tersebut dengan istilah Histeria  (ketakutan Berlebihan sehingga panik)  saat terjadi perang Khandaq, (as-Samarqandi, Juz 1,  1993: 169). Di mana pada saat di datangi oleh musuh secara tiba-tiba dengan jumlah tentara yang begitu besar dan kuat, sementara tentara Islam belum siap dalam berbagai hal, jumlah personil  tentara Islam juga hanya sedikit, tentu saja menjadi panic dan katakutan yang sangat berlebihan (Histeria).[18]

Demikian pula Pandemi Covid 19, kurang lebih juga sama,  menimbulkan Rasa  panic dan Takut berlebihan (histeria). Sehingga menciptakan gejolak dan respons sosial yang berlebihan pula. Misalnya memborong komoditas potensial secara membabi buta; seperti masker, hand sanitizer , dan selainnya. [19]

 

Saat menghadapi musibah, biasanya ada empat tipe respon yang dikeluarkan manusia menurut Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah .[20]

  • Mengeluh
    Jika Anda sering mengeluh, mengumpat, bahkan melaknat sumber cobaan, mungkin hati Anda jauh dari keridhaan pada Allah akibat iman yang bermasalah. Mari evaluasi diri dan coba bersabar, ya.
  • Bersabar
    Jika ada SOP untuk menghadapi masalah, ini adalah SOP paling dasar yang wajib dimiliki seorang muslim. Bersabarlah seperti sabarnya orang sholeh, yaitu dengan menahan diri untuk mengumpat, berbuat maksiat, dan bersabar dalam melaksanakan perintah dan larangan dengan patuh, termasuk yang berasal dari medis dan ulama.
  • Meridhoi
    Bedanya dengan bersabar adalah adanya pernyataan keridhaan dan kelapangan dada saat menerima masalah. Sikap ‘ya sudah, tidak apa-apa’ yang dibarengi dengan penerimaan penuh cinta kepada Allah.
  • Bersyukur
    Tak biasanya seseorang bersyukur saat diuji. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal (Segala puji bagi Allah dalam segala hal) merupakan prinsip mereka. Malah kadang mereka minta diuji agar tetap dekat dengan Allah. Sanggupkah Anda menjadi seperti ini?

 

Dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Shuhaib berkata; Rasulullah saw bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” [21]

 

  1. Mengingatkan Manusia, khususnya orang Beriman agar lebih mendekatkan diri kepada Allah.

 

Terkait dengan surat Al Baqarah ayat 155 pada Point 6 di atas,  yakni di ayat 153 di surat yang sama, Allah swt Berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

 

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [22]

 

Dalam Hadits Qudsi dari Sahabat Abu Hurairah ra disebutkan : bahwa Rasulullah saw Bersabda :

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ.  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 

Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik dari pada pada itu (kumpulan malaikat).”[23]

 

Sebagai hamba yang daif, hendaknya merenungkan dan menerapkan  hikmah dari ayat tersebut yakni al-isti’anah. (memohon pertolongan dan perlindungan) kepada Allah swt. Bukan hanya bersikap diam dan pasrah tanpa berbuat (pasif-fatalis) atau aktif-gegabah dalam menghadapi  pandemi Corona Virus (Covid 19). yakni tidak saja menggalakkan upaya lahiriah, tetapi juga mengetuk pintu langit lewat ibadah dan doa.

 

  1. Cara Allah menegur Manusia ajar menghentikan perbuatan maksiyat dan dosa, serta bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.

 

Diskotik, atau tempat-tempat hiburan yang banyak dikunjugi, di mana tempat-tempat tersebut disalah gunakan sebagai tempat maksiyat dan kemungkaran secara eksklusif (rahasia. Tertutup dan sembunyi sembunyi), seperti perjudian billiard, bermabuk-mabukan,  transaksi narkoba dan Seks bebas, sementara tempat berkumpul tersebut adalah sangat berpotensi sebagai media penularan dan penyebaran Corona virus (Covid 19),  maka timbul kesadaran, efek jera dan peraaaan takut dan khawatir akan tertular atau terkonfirmasi Corona Virus,  akhirnya para pengunjung tempat-tampat hiburan maksiyat tersebut tidak lagi mau dating berkunjung. Apalagi dengan diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar), Jaga Jarak (Physical Distancing), WFH (Work From Home) dan lain lain selama masa Pandemi Covid 19, dan  tempat-tempat tersebut dirazia dan ditutup sehingga tidak lagi terjadi kemaksiyatan dan kemungkaran didalamnya.

 

  1. Timbulnya kesadaran untuk bersikap solidaritas Sosial  dan kepedulian terhadap sesama untuk saling membantu dan  tolong menolong.

 

Pandemi Covid 19 benar benar menimbulkan dampak dan akibat buruk yang meluas/ mengglobal dan beruntun  Salah satunya adalah lumpuhnya perekonomian. Banyak karyawan pabrik atau perusahaan dirumahkan (PHK), pendapatan para pedagang besar maupun kecil menurun drastis, sehingga pengangguran semakin bertambah, kesulitan ekonomi dan kemiskinan juga semakin meningkat.

Menghadapi kondisi yang demikian, maka para aghniya’ (orang yang mampu) merasa terketuk hatinya untuk peduli social dan mau berbagi terhadap sesama, terutama bagi saudaranya yang menjadi korban terpapar Virus Corona (Covid 19).

Sabda Nabi saw :

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”[24]

 

Juga Sabdanya di Hadits lain  :

 

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ

Manusia yang paling disukai oleh Allah  adalah yang paling bermanfaat bagi manusia[25]

 

PENUTUP

 

 

Simpulan

 

Dibalik Peristiwa Musibah apapun, apabila kita mencermatinya dari dua dimensi  yakni tidak hanya memandang dari sisi dampak buruknya saja, tetapi juga memandang dari sisi positifnya,  tentu akan selalu ada Hikmah dan mau’izhah (pelajaran berharga) yang bisa kita ambil, termasuk peristiwa Pandemi Covid 19 ini. Antara lain Mengingatkan manusia akan kekuasaan Allah swt sekaligus menyadarkan manusia akan kelemahan, dosa-dosa dan kesalahan dalam menyikapinya. agar bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.  Juga mengedukasi akan pentingnya manjaga kebersihan, keharmonisan dan kepedulian terhadap sesama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

  • Al-Qur-An Terjemah, Departemen Agama,
  • Abu Abdillah, Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim Bin Al Mughirah Al-Bukhory, Shahih Al Bukhori, Darusy Sya’bi, Kairo Mesir, 1987
  • Muhammad, Bin Jarier bin Yazid Bin Katsir Bin Gholib Al-Amaly, Abu Ja’far Ath Thobari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil Qur-an, Surat At-Tahrim ayat 6, Muassasah Ar Risalah, 2000,
  • Abu Dawud Sulaiman Bin Al-Asy’ats Asy-Syaajastany, Sunan Abi Dawud, Darul Kitab Al-“aroby, Beirut, tt,
  • Abu Al-Fida’ Isma’il Bin Amr Bin Katsir Al-Qurasyi Ad Damasyqy, Tafsir Al-Qur-anil Azhim, Darut Thayibah Li An Nashr wa At Tauzi’, 1999,
  • Prof, M. Qurais Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur-an), Lentera Hati, Tangerang,2005,
  • Muhammad bin Umar bin bin Al-Hasan At-Tamimy Al-Bakry Al-Qurasyi At-Tibristani Ar-Razi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari (Imam Fakhruddin Ar-Razi), Tafsir Al-Kabir, tt
  • Abu al Husain Muslim Bin Al-hajjaj Bin Muslim Al-Qusyairy An Naisabury, Shahih Muslim, Darul Afaq Al Jadidah, Beirut, tt,

 

 

 

 

 

*) Penyuluh Agama Islam Fungsional Kec. Bubutan Kota Surabaya

[1] QS.Al-Baqarah : 216

[2] QS.An-Nisa’ :19

[3] QS.An-Nisa’:28

[4] QS.Fushshilat: 53

[5] QS. An-Nisaa: 78

[6] Abu Abdillah, Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim Bin Al Mughirah Al-Bukhory,  Shahih Al Bukhori, Darusy Sya’bi, Kairo Mesir, 1987, juz 1 Hal.52

[7] https://tuturma.ma/hati-hati-gangguan-pada-anak-akibat-ayah-jarang-di-rumah/ Di Akses  Senin /27/07/2020  Pukul 17 : 30

 

[8]  QS.At-Tahrîm :6

[9] Muhammad, Bin Jarier bin Yazid Bin Katsir Bin Gholib Al-Amaly, Abu Ja’far Ath Thobari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil Qur-an, Surat At-Tahrim ayat 6,  Muassasah Ar Risalah, 2000, hal 560

[10] QS.20 /Thaha : 132

[11] Abu Dawud Sulaiman Bin Al-Asy’ats Asy-Syaajastany, Sunan Abi Dawud, Darul Kitab Al-“aroby, Beirut, tt, Juz 1 Hal 185   (disahihkan al-Albâni dalam al-Irwâ)

[12] Abu Al-Fida’ Isma’il Bin Amr Bin Katsir Al-Qurasyi Ad Damasyqy, Tafsir Al-Qur-anil Azhim, Darut Thayibah Li An Nashr wa At Tauzi’, 1999, Hal 560

[13] QS.Asy-Syura: 30

[14] QS.Asy-Syura: 30

[15] Q.S.Al-Baqarah 155

[16] Prof, M. Qurais Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur-an), Lentera Hati, Tangerang,2005, Hal. 364-367

[17] Ibid, Hal: 365

[18] Muhammad bin Umar bin bin Al-Hasan At-Tamimy Al-Bakry Al-Qurasyi At-Tibristani Ar-Razi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari (Imam Fakhruddin Ar-Razi), Tafsir Al-Kabir, Juz 4, 1981: 165

[19]  https://islami.co/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-155-156-cara-elegan-menghadapi-pandemi-corona/   Di Akses Senin /27/07/2020  Pukul 19 : 42

[20] https://dalamislam.com/info-islami/hikmah-dari-pandemi-virus-corona    Di Akses Senin /27/07/2020  Pukul 19 : 53

 

[21] Abu al Husain Muslim Bin Al-hajjaj Bin Muslim Al-Qusyairy An Naisabury, Shahih Muslim, Darul Afaq Al Jadidah, Beirut, tt, Juz  8  Hal.227

[22] Q.S. 2 / Al-Baqarah 153

[23] Abu Abdillah, Muhammad Bin Ismail Bin Ibrahim Bin Al Mughirah Al-Bukhory,  Shahih Al Bukhori, Darusy Sya’bi, Kairo Mesir, 1987, juz 22 Hal.409

[24] Abu al Husain Muslim Bin Al-hajjaj Bin Muslim Al-Qusyairy An Naisabury, Shahih Muslim, Darul Afaq Al Jadidah, Beirut, tt, Juz  1  Hal. 49

[25] Sulaiman Bin Ahmad Bin Ayyub Bin Muthir Al-khomy Asy Syamy, Abul Qosim Ath-Thabrany, Al-Mu’jam Al-Kabir,  Juz 11  Hal 307

You may also like

Leave a Comment

Follow by Email