Home Kegiatan Penyuluh Agama Kec. Bubutan Menebarkan Semangat Ramadhan Melalui Dzuhur Keliling

Penyuluh Agama Kec. Bubutan Menebarkan Semangat Ramadhan Melalui Dzuhur Keliling

by admin

POKJALUH Kota Surabaya-Di hari ke-21 Ramadhan, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bubutan Kota Surabaya melaksanakan Safari Ramadhan melalui Dzuhur Keliling (Dzuring) di Masjid Nurul Ihsan,  Senin siang (1/04). Acara ini rutin terlaksana dengan tujuan untuk mengajak masyarakat merasakan kehangatan dan kebersamaan dalam menjalankan ibadah sekaligus memberikan pelayanan prima mengenai keagamaan di masyarakat.

Dalam Dzuring ini,  turut berkolaborasi dengan Penyuluh PNPNS Kec. Bubutan, Pemuka Agama, masyarakat setempat dan Takmir Masjid Nurul Ihsan.

Kunjungan Penyuluh Agama Islam tersebut diterima sangat baik oleh jamaah Masjid Nurul Ihsan. Terlebih ketika Ustadz Masykur salah satu Penyuluh Kec. Bubutan memberikan tausiyah Keindahan Ramadhan dengan Saling Menghargai Sesama.

“Ramadhan harus dimaknai sebagai bulan yang penuh rahmat dan kasih sayang”, katanya kepada Jamaah

Beliau juga menjelaskan, berpuasa bukan sekadar menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang dapat membatalkannya. Akan tetapi hakikat puasa juga melatih kepekaan terhadap kesulitan orang lain, melatih empati kepada orang yang belum beruntung, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

“Mestinya melalui ibadah puasa ini kita mampu mengambil hikmah tertinggi. Atas dasar keimanan kita, kita menegakan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui. Bulan suci Ramadan bukan hanya melaksanakan puasa untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Tetapi puasa sebagai ajang penyucian diri dan pembersih jiwa” jelasnya.

“Juga menjernihkannya dari pikiran-pikiran yang buruk dan akhlak yang rendah. Tentu saja tidak sekedar diartikan secara harfiah hanya menjaga untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu,” tuturnya.

Masykur menjelaskan, puasa merupakan ajang untuk menjaga integritas, baik dalam taat melaksanakan ibadah kepada Allah, maupun integritas terhadap sesama manusia.

“Mestinya melalui ibadah puasa ini kita mampu mengambil hikmah tertinggi. Atas dasar keimanan kita, kita menegakan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui. Kita jadikan ibadah setiap bulan Ramadan ini sebagai upaya untuk terus menjaga integritas. Satu karakter yang akhir-akhir ini mulai hilang. Mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan,” jelasnya.

Ustadz Masykur juga memaparkan beberapa hal yang membuat gagal mendapatkan kemuliaan Ramadan.

Pertama, kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban. Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Syaban sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. 

Persiapan yang lain juga meminta maaf kepada kedua orang tua, meminta maaf kepada suami atau istri dan tetangga, dan perbanyak istigfar untuk selalu membersihkan diri dan hati.

“Karena pada dasarnya puasa merupakan media untuk pembersihan hati. Ingat jika segumpal daging dalam tubuh rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Oleh sebab itu kita perlu selalu menjaga kebersihan hati.

Kedua, gampang mengulur salat fardhu. Masykur menyampaikan, orang yang berpuasa tetapi melalaikan salat fardhu, maka dia adalah orang yang sangat merugi.

Masykur menyampaikan ayat Al-Qur’an surat Maryam ayat 59: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih”.

Ketiga, malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah salat malam. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadahibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.

“Kita mesti memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini karena kita tidak pernah tahu apakah tahun depan kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk berjumpa dengan bulan yang penuh nikmat ini,” pesan Masykur.

Keempat, kikir dan rakus pada harta benda, takut rugi jika mengeluarkan banyak Infaq dan shadaqah adalah tandanya. Menurut Masykur, salah satu sasaran utama puasa agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan.

“Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya. Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan,” tuturnya.

Kelima, malas membaca Al-Qur’an. Ramadan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadan untuk membaca Al-Quran.

“Ramadan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Quran sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci,” imbuh Masykur.

Keenam, gemar bicara sia-sia dan dusta. Masykur mengatakan, orang yang berpuasa menahan haus dan lapar tetapi tidak meninggalkan ucapan dusta dan sia-sia maka puasa yang dilakukan juga sia-sia belaka. Kesempatan Ramadan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik.

“Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia. Dalam kontek kekinian, hindari dari keikutsertaan penyebaran hoax, karena akan merugikan kita sendiri. Selain itu akan merusak tali silaturahmi antar umat dan bahkan bias merusak persatuan atau kohesi sosial,” jelasnya.

Ketujuh, memutuskan tali silaturrahim. Masykur menyampaikan, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan suci jni, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya“.

Masykur menerangkan, puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta. Orang yang berpuasa jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu.

“Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan,” katanya.

Kedelapan, tidak mencintai kaum dhuafa. Bulan Ramadan merupakan bulan kasih sayang. Di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra.

Karena itu, Masykur mengatakan, momentum bulan Ramadan menjadi ajang untuk menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat, seperti Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kekurangan.

“Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti kitaperlu segera instrospeksi,” sebutnya.

Sebagai informasi, menyambut bulan suci Ramadan 1445 Hijriah, Seluruh Penyuluh Agama Islam Kec. Bubutan menyelenggarakan kegiatan kultum usai Shalat Dzuhur secara bergilir di setiap Kecamatan Bubutan Kota Surabaya.
Kegiatan ini digelar rutin setiap awal bulan, tidak hanya di Bulan Ramadan dan diisi oleh Penyuluh Agama Islam Kec. Bubutan seperti Ustadzah Sholiha, ustadz saniman, ustadz Azis, ustazdah Ika, Ustadz Muhyi, Ustadz Rohman, Ustadz Thosim, Ustadz Alan, Ustadzah Luluk dan Ustadz Masykur. (Luluk/ Ima)

 

You may also like

Leave a Comment

Follow by Email