Home Uncategorized *ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN APAPUN*

*ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN APAPUN*

by admin

Allah tidak serupa dengan apapun..
Maka jangan samakan Dia dengan makhluk-Nya..
Allah ta’ala berfirman tentang diri-Nya,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Al Ikhlas:4)
Dan Dia Maha Melihat..
Padahal makhlukpun melihat..
Tapi penglihatan Allah tidak serupa dengan penglihatan makhkuk-Nya..
.
Dia Maha mendengar..
Padahal makhlukpun mendengar..
Tapi pendengaran Allah tidak serupa dengan pendengaran makhluk-Nya..
Demikianlah seluruh sifat Allah..
Tidak serupa dengan sifat makhluk-Nya..
Allah beristiwa di atas Arasy-Nya..
Namun istiwa yang tidak sama dengan istiwa makhluk-Nya..
Tidak berkonsekwensi membutuhkan tempat atau arah..
Karena istiwa Allah berbeda dengan makhluk-Nya..
.
Dan tidak boleh memahami dengan akal kita bahwa yang namanya istiwa berkonsekwensi kepada tempat dan arah..
Karena itu adalah konsekwensi makhluk..
Allah kuasa untuk beristiwa di atas arasy tanpa membutuhkan tempat dan arah..
Allah berfirman dalam Al Quran surah Ali Imran Ayat 7
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ مِنْهُ ءَايَٰتٌ مُّحْكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٌ ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَآءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun *orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya*, padahal *tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.*
Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: *”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”.* Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal

Bagaimana sikap kita sebagai manusia beriman dan hidup di Negara yang ber “Bhinneka Tunggal Ika”, maka sikap kita bisa diuraikan sebagai berikut:
1. Menjalin hubungan dengan Tuhan
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Negara kita mengakui “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasadan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia meyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Kemudian dalam sila pertama dalam Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Menjalin hubungan dengan Allah adalah kebutuhan yang paling utama dalam hidup didunia. Manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang harus selalu mengingat akan Sang Pencipta. Menjalin hubungan yang baik dapat dilakukan dengan cara menaati segala aturannya dan menjauhi segala larangannya. Kita juga dapat menjalin hubungan dengan Allah melalui ibadah, doa-doa yang kita panjatkan dan juga selalu mengingat Allah. Berdoa itu sama saja dengan kita menjalin komunikasi dengan Yang Maha Kuasa dan juga ketika kita senantiasa mengingat Allah maka kita akan senantiasa mendapatkan kedamaian hati dalam menjalani setiap langkah kehidupan. Kita adalah mahkluk ciptaan-Nya dan tidak mungkin kita tidak menjalin hubungan dengan pencipta kita, dan apapun yang kita lakukan bergantung pada kehendak-Nya. Hubungan dengan Allah akan mempengaruhi hubungan kita dengan sesama manusia. Kehidupan manusia tidak akan berubah ketika tidak melibatkan Allah dalam kesehariannya didunia.
2. Hubungan dengan diri sendiri.
Hubungan antar diri sendiri diwujudkan dalam bentuk rela, menerima, sabar, memahami diri, dan mencintai diri. Sebagai makhluk individu, manusia memiliki akal, rasa, dan kehendak sehingga mempunyai tujuan hidup yang berbeda-beda. Tujuan hidup yang sama adalah untuk mencapai kebahagiaan hati bersama. Sedangkan kebahagiaan hati bersama dapat tercapai apabila sudah mendapatkan kebahagian pribadi. Kebahagiaan pribadi terlaksana apabila manusia mampu menerapkan sikap rela, menerima, dan sabar. Sikap rela / sanggup untuk melepaskan seperti melepaskan hak milik. Sikap menerima segala apapun yang menimpa kita, tanpa memberikan protes. Kita perlu memahami hubungan antar sesama diri sendiri agar bisa menjalin hubungan antar sesama manusia. Jika kita belum bisa memahami diri sendiri, apalagi memahami orang lain yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda.
3. Hubungan antar sesama manusia.
Hubungan antar sesama manusia dapat diartikan sebagai komunikasi antar pribadi. Komunikasi yang telah memasuki tahap psikologis yang komunikator dan komunikasinya saling memahami pikiran, perasaan, dan tindakan yang dilakukan juga didasarkan atas kebersamaan. Apabila kita ingin menciptakan komunikasi yang akrab dengan orang lain, maka dapat didahului oleh pertukaran informasi tentang identitas maupun mengenai masalah pribadi yang bersifat sosial. Kita harus memahami hakikat manusia. Bagaimana kita mampu menerima orang lain diluar diri kita dengan apa adanya. Bagaimana kita mampu bersikap profesional dalam melakukan apapun yang kita kerjakan.
4. Hubungan dengan negara
Negara dan warga negara identik dengan adanya hak dan kewajiban, antara warga negara dengan negaranya ataupun sebaliknya. Negara memiliki kewajiban untuk memberikan keamanan, kesejahteraan, perlindungan terhadap warga negaranya serta memiliki hak untuk dipatuhi dan dihormati. Sebaliknya warga negara wajib membela negara dan berhak mendapatkan perlindungan dari negara. Mengutip dari Mantan Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy : ” Jangan Tanyakan Apa yang Negara Berikan Kepadamu Tapi Tanyakan Apa yang Kamu Berikan Kepada Negaramu”, akan menggugah hati ditengah berbagai permasalahan di negara ini.
5. Hubungan dengan lingkungan sekitarnya
Lingkungan merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Fakta menunjukkan bahwa tingkat kerusakan lingkungan sudah sangat tinggi dan cenderung makin meninggi, relatif mudah untuk ditemukan. Berita tentang terjadinya pencemaran lingkungan, baik pencemaran udara, air maupun tanah (kerusakan lingkungan) sudah merupakan bagian yang tidak dapat dihindarkan dari kegiatan pembangunan. Lingkungan yang tercemar akan berdampak negatif pada kesehatan, kenikmatan hidup, kemudahan, efisiensi, keindahan, serta keseimbangan ekosistem dan sumber daya alam. Lingkungan hidup perlu dikelola / ditingkatkan mutunya untuk menanggulangi dampak negatif.

Asy’ari, S.PdI,MH
PAIF Kec. Gubeng

You may also like

Leave a Comment

Follow by Email